Sebagai mahasiswa asal Indonesia yang kembali untuk kedua kalinya untuk menimba ilmu di Australia, saya kadang bertanya pada diri sendiri, apa sih tentang Australia yang membuat saya begitu nyaman tinggal dan menimba ilmu disini? Sedikit bicara sejarah, pertama kali saya melamar beasiswa tidak lama setelah saya lulus S1, saya tidak tahu sedikitpun tentang Australia, bahkan rasanya ibukotanya pun saya tidak tahu. Negeri ini begitu asing buat saya. Tapi sungguh, diterima beasiswa Australia Partnership Scholarship ditahun 2006 kala itu turns out to be one of His most wonderful blessings!

Kembali ke pertanyaan saya tadi, apa sih tentang Australia yang membuat saya “betah”?

Beberapa hari yang lalu tidak sengaja saya terpikir akan beberapa jawaban yang mungkin bisa menjelaskan.

Di Australia ini, saya merasa diperhatikan sebagai warga negara, sebagai ibu/orang tua dan sebagai perempuan. Ketika itu saya sedang berada di pusat perbelanjaan yang biasa-biasa saja, bukan yang super mewah dan eksklusif seperti yang kita sering lihat di Jakarta, tapi luar biasanya, mereka punya fasilitas toilet yang memisahkan antara toilet perempuan, toilet laki-laki, dan toilet orang tua yang membawa anak (parents with children)! Apa sih bedanya toilet orang tua ini dengan toilet lainnya? Yang membedakan adalah ukurannya yang lebih lega supaya orang tua dan anak bisa masuk sama-sama, terutama untuk orang tua yang membawa anak kecil terkadang mereka masih perlu dibantu untuk membasuh, nah disinilah toilet orang tua terasa sangat nyaman dan memenuhi kebutuhan. Di beberapa tempat bahkan saya sering temukan toilet dimana didalamnya disediakan toilet duduk untuk anak dan dewasa.

Kemudahan lainnya yang mungkin terdengar sepele adalah bagaimana orang akan mendahulukan pejalan kaki dimana pun berada, apalagi kalau pejalan kaki tersebut membawa anak kecil atau mendorong pram. Hampir semua sarana publik bisa diakses dengan pram dan wheelchair, yang paling sering saya kunjungi tentunya pusat perbelanjaan dan playground anak. Hal-hal kecil seperti inilah yang membuat hidup sehari-hari jauh dari keluarga menjadi terasa lebih mudah dan malah terkadang bikin rindu, sebagaimana rindu saya pada Australia setelah pulang studi 2009 dulu. Dan pada waktunya, saya bersyukur bisa kembali lagi untuk menikmati all the littlest things that count!