Saat saya menimba ilmu S2 di Australia, saya adalah satu-satunya mahasiswa asal Indonesia di jurusan saya. Mahasiswa di jurusan saya terbilang sedikit jumlahnya. Satu angkatan hanya sekitar 15 orang mahasiswa, baik mahasiswa full time maupun part time. Karena saya kuliah di jurusan kesehatan masyarakat (public health) saya berpikir pastilah mereka semua berlatar belakang ilmu kesehatan. Ternyata tidak sama sekali. Saya agak heran, sampai seorang akuntan pun ada di kelas saya. Ya, satu hal yang saya pelajari dari teman-teman saya, mereka sekolah karena mereka punya passion, rasa penasaran dan haus akan ilmu. Sedikit berlebihan? Tunggu dulu… Seorang kawan saya, adalah Head of Financial Department di salah satu instansi pemerintah di Canberra, belakangan dia menjabat sebagai CEO. Seorang kawan lain, telah berusia 60 tahun dan sedang membangun hotel di Phuket. Melihat kepada dua orang kawan saya ini, mungkin sebagian besar orang akan bertanya untuk apa mereka kuliah? Toh, mereka sudah berada pada puncak kariernya atau malah sudah usia pensiun? Tidak menyangkal, saya juga bertanya hal yang sama.. Jawabannya, mereka sekolah karena sekarang mereka memiliki kesempatan untuk mempelajari sesuatu yang mereka senangi ataupun hanya ingin memperoleh ilmu yang baru, menjelajahi disiplin ilmu yang lain.

Saya yakin sebagian dari kita ketika menentukan jurusan saat kuliah S1, tidak benar-benar yakin itu jurusan yang kita senangi atau malah terpaksa kuliah di jurusan yang tidak kita ingini. Terpaksa mengubur cita-cita kita karena satu dan lain hal. Belajar dari kawan-kawan saya yang sudah cukup senior, tidak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu yang baru ataupun mencapai cita-cita di masa lalu. Saya sendiri tidak tahu mau jadi apa ketika saya lulus SMA dulu. Saya lulus sekolah kedokteran tetapi pengalaman praktek 3 bulan (dimana hanya 2 kali dalam seminggu saya praktek) membuat saya yakin saya tidak bisa menjalani profesi ini seumur hidup saya. Pilihannya saya harus mencari bidang lain. Lupakan default setting seorang dokter di Indonesia, praktek atau spesialisasi. Dua-duanya bukan pilihan saya. Pilihan saya memang tidak se-ekstrem teman-teman saya yang benar-benar berbeda disiplin ilmu namun saat pertama memutuskan terjun ke public health 5 tahun yang lalu, saya pun takut salah langkah. Mungkin sama seperti 5 tahun yang lalu,  sampai sekarang saya masih ragu apakah jalan yang saya pilih ini sudah tepat. Tetapi bedanya, saya kini yakin bahwa ilmu itu tidak terbatas. Menimba ilmu ataupun sekolah tidak selalu identik dengan motivasi ekonomi di masa depan. Tidak pernah ada kata terlambat untuk kita bereksplorasi, untuk kita belajar, apapun itu. Mungkin ilmu itu tidak terkait dengan pekerjaan kita, mungkin ilmu itu tidak menguntungkan kita secara ekonomi tapi satu hal yang pasti belajar, menimba ilmu itu tidak akan pernah ada ruginya. Ya, tidak pernah ada kata terlambat untuk kita belajar.