Saat itu awal Desember 2012, saya memberanikan diri menghubungi kantor Australia Award Indonesia untuk menanyakan status aplikasi Australia Awards Scholarship saya (dulu masih bernama Australia Development Scholarship). Puji Tuhan saya mendapat kabar gembira bahwa aplikasi saya lolos ke tahap seleksi selanjutnya yakni test wawancara dengan Joint Team Selection (JST) dan test IELTS.

Menurut saya pribadi, hal yang paling menetukan dalam kelulusan untuk beasiswa ADS adalah hasil wawancara. Nilai IELTS hanya menentukan lamanya training English Academic Program (EAP) yang durasinya bervariasi mulai dari 6 minggu hingga 9 bulan. Buktinya saya melihat sendiri ada beberapa peserta yang lolos wawancara ADS dengan nilai IELTS 4.5 dan 5. Berangkat dari asumsi tersebut, saya berusaha mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk menghadapi test wawancara.

Namun pada saat saya mencari informasi di internet, tidak banyak tulisan dari para peraih beasiswa AAS yang menbahas mengenai proses seleksi beasiswa, termaksud wawancara oleh JTS. Hal ini yang kemudian memicu saya untuk membuat tulisan ini agar para calon penerima AAS berikutnya memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai proses wawancara salah satu beasiswa terpopuler di Indonesia ini.

Dari berbagai informasi tentang wawancara beasiswa yang saya kumpulkan, sebenarnya ada hal umum yang bisa di tarik dari pertanyaan-pertanyaan yang biasa diajukan. Materi wawancara beasiswa pada umumnya berkutat soal: 

  • Aplikasi dalam formulir beasiswa yang telah diisi
  • Alasan merasa perlu melanjutkan jenjang studi
  • Proyeksi ke depan
  • Kontribusi terhadap institusi pekerjaan/ Indonesia secara umum setelah masa studi berakhir
  • Highest achievement

Hal lain yang penting untuk diketahui dan diutarakan selama wawancara beasiswa adalah manfaat yang didapat si pemberi beasiswa (tergantung interest masing-masing pemberi beasiswa) apabila ia memberikan beasiswa tersebut kepada pelamar.

Khusus untuk wawancara AAS, ada beberapa hal utama yang harus dipersiapkan: 

  1. Cek universitas dan subjek studi yang kamu hendak ambil di Australia. Pastikan bahwa kamu tahu keunggulan universitas tersebut dan daftar mata kuliah yang hendak diambil dari subjek yang kamu telah pilih.
  2. Pelajari secara mendalam tentang topik/isu yang ingin didalami di jenjang pendidikan yang lebih tinggi (Master atau PhD) baik secara nasional maupun global.
  3. Pastikan bahwa topik tersebut ada kaitannya dengan tempat kamu sekarang bekerja atau aktifitas utama yang kamu lakukan.
  4. Cari benang merah dari keseluruhan hal tersebut dengan formulir aplikasi yang telah kamu kirim.

Hal yang perlu ditekankan pada saat wawancara AAS: 

  1. Bagaimana kamu dengan semaksimal mungkin dapat memanfaatkan beasiswa AAS untuk memperkuat hubungan bilateral antara Australia dan Indonesia?
  2. Bagaimana kamu bisa memberikan kontribusi yang berarti bagi proses pembangunan di Indonesia?

Berikut adalah daftar pertanyaan yang diajukan oleh tim JTS. Pertama sekali masuk ruangan wawancara, saya diberikan guyonan bahwa foto saya di CV berbeda dengan rupa saya yang sebenarnya. Saya juga ditanya apakah saya baru memotong rambut saya? (ice breaking session). Kemudian pada saat duduk di depan tim JTS, saya melihat data-data saya (termaksud CV) menyebar di atas meja. Jadi bisa disimpulkan bahwa sebelum mulai mewawancarai setiap peserta satu per satu, tim JTS telah mereview profile peserta secara mendetail.

Pertanyaan serius oleh tim JTS dimulai dengan pernyataan bahwa dari CV saya, tim JTS bisa melihat bahwa saya telah aktif di beberapa kegiatan kemahasiswan dan organisasi di luar kampus, oleh karenanya apa yg menjadi tujuan atau passion saya di kemudian hari?

Pertanyaan tersebut saya jawab dengan mengisahkan tentang kampung halaman saya di Berastagi, dimana dampak perubahan iklim membuat banyak petani merugi. Hal tersebut kemudian memacu saya untuk bertindak guna mengurangi dampak buruk perubahan iklim. Hal ini saya wujudkan dengan ikut berbagai kegiatan lingkungan di kampus, mengambil mata kuliah yang terkait isu politik lingkungan global dan setelah lulus saya bekerja di institusi pemerintah yang bergerak di bidang perubahan iklim. Kedepannya saya ingin berkontribusi dalam proses policy making di Indonesia di bidang perubahan iklim.

Pertanyaan seterusnya adalah sebagai berikut: 

  • Bagaimana pendapat kamu tentang perkembangan climate change policy di Indonesia?
  • Apa pendapat kamu tentang CDM (Clean Development Mechanism)?
  • Seberapa besar pengaruh social media dalam kaitannya dengan climate change?
  • Apa yang kamu ketahui tentang Clean Energy Future (CEF) program di Australia?

Belum selesai menerangkan soal CEF program, saya dipotong dengan pernyataan bahwa mereka sudah mengerti bahwa saya memahami benar tentang climate change policy dan berbagai jenis model mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan:

  • kamu masih sangat muda, bagaimana cara kamu dapat meyakinkan policy makers yang jauh lebih senior?
  • Apa hal yang kamu ingin tambahkan didirimu sehingga bisa mempengaruhi pembuat kebijakan?
  • Bagaimana pengalaman kamu sewaktu study abroad di Melbourne?
  • Bagaimana pula sewaktu menerima beasiswa summer study di USA?
  • Sebenarnya ada banyak orang seperti kamu, muda, berprestasi dan punya banyak pengalaman. Apa yang menurut kamu membuatmu berbeda?
  • Apa rencana kamu 10 tahun ke depan?
  • Apakah ada rencana untuk melanjutkan ke jenjang PhD?
  • Apakah ada hal lain yang mau di tanya ke tim pewawancara?

Untuk pendaftar AAS level master, tim JTS terdiri dari dua orang yang merupakan komposisi dari pihak Australia dan Indonesia. (Untuk level PhD sepengetahuan saya terdiri dari 6 orang tim JTS). Saya sendiri di wawancara oleh seorang profesor dari Australia dan seorang Ibu yang merupakan dosen pengajar di universitas di Makasar. Pada akhirnya saya berhasil mendapatkan dua gelar Master (Master of Environmental Management and Development and Master of Diplomacy) dari beasiswa AAS yang saya tempuh dari Juni 2014- Juni 2017.