Ukulele?

Tak pernah terpikir sebelumnya bahwa saya akan memainkan dan jatuh cinta dengan alat musik ini. Tak pernah pula terpikir saya akan memainkannya di tengah kesibukan studi S3 di Australia.

Saya diperkenalkan dengan ukulele ini oleh keluarga dari Imma Batubara, sahabat dan juga rekan seperjuangan S3 di program Demografi, ANU. Bersama mereka, saya dan sahabat lainnya bergabung dalam sebuah grup peminat ukulele yang rajin latihan setiap Jum’at sore. Lama kelamaan grup ini makin besar. Demikian juga niat kami untuk perform semakin besar. Akhirnya kami pun punya kesempatan untuk tampil. Ajang pertama kami adalah acara Canberra Mencari Bakat yang diselenggarakan PPIA ANU bulan Maret 2012. Kami memainkan tiga lagu, Missirlou, Waltzing Matilda, dan medley lagu anak-anak Indonesia. Grup ukulele yang kami beri nama Indonesia Ukulele Orchestra ini pun memenangkan hati para penonton acara tersebut. Kami dianugerahi juara pertama performer ter-favorit.

Kesibukan studi S3 sebenarnya tak tanggung-tanggung. Apalagi di tahun terakhir masa kandidatur ini, semua supervisor “menagih” output terakhir kita, yaitu final draft tesis. Untuk saya, kesibukan tersebut ditambah dengan kesibukan merawat anak saya, Arvind, yang masih berusia 2 tahun. Ditambah lagi kesibukan suami yang juga sedang menempuh pendidikan S3 bidang ekonomi di kampus yang sama. So, sekolah, punya anak kecil, masih sempat main ukulele? Tentunya.

Untuk saya, ukulele membantu  menenangkan diri dan hati. Nada yang didentingkan dari gitar kecil bersenar empat yang sederhana namun indah ini membantu saya menemukan kedamaian. Ketika saya gundah karena menderita “writer’s block”, saya beralih sejenak ke ukulele. Meski hanya berbekal chords dasar dan sering salah strum, saya menikmati permainan ukulele amatir tersebut. Alunan lagu Here Comes the Sun milik Beatles, Hallelujah milik Beirut, dan Somewhere over the Rainbow milik Israel Kamakawiwo’ole, ditambah lagu Bengawan Solo dengan strumming “mirip keroncong” yang dimainkan oleh suami di kala malam, membuat saya seperti menemukan oase. Keindahan alunan ukulele tersebut memberi saya waktu istirahat yang berkualitas sebelum kembali menulis tesis.

Bermain ukulele dalam grup juga mengajarkan saya banyak hal. Ketika bermain musik dalam orkestra, saya tak boleh mendominasi, tak pula boleh tak terdengar.  Saya harus cepat sadar ketika strumming saya terlalu cepat, terlalu keras, atau juga tertinggal. Saya harus berhenti sejenak untuk mendengarkan sang konduktor dan keseluruhan irama orkestra agar tercapai harmoni alunan nada. Saya belajar mendengarkan, memperhatikan orang lain, dan tentunya menyesuaikan diri. Suatu pembelajaran yang saya pikir sulit saya dapatkan jika saya melulu mengerjakan tesis sendirian di kantor saya yang sepi.

Selain itu, bermain musik dengan sahabat sesama perantau di tanah Australia ini membuat saya merasa seperti berada di tengah keluarga besar. Suasana latihan kami setiap hari Jum’at adalah penuh kehangatan dan suka cita, juga perut kenyang karena banyak personil yang dianugerahi dengan bakat memasak.  Ketika kami berkumpul, rasanya seperti di “rumah”. Home sickness pun tak terasa ketika kami berlatih bersama. Karena alasan ini, saya punya motivasi untuk mati-matian menulis dan bekerja selama weekdays. Sehingga bermain ukulele bersama “keluarga” di rantau ini menjadi sebuah insentif untuk lebih produktif menulis tesis.

Akhir kata, pengalaman saya ber-ukulele pada tahun terakhir kandidatur saya ini banyak maknanya. Meskipun ada yang berkomentar bahwa bermain ukulele ini suatu bentuk procrastination, biarlah. Karena untuk saya, bermain ukulele bersama sahabat adalah “oase” yang bisa memacu semangat saya menyelesaikan studi.