Pemilihan topik untuk thesis PhD sangat subyektif, tergantung minat dan kebutuhan setiap orang. Ada yang karena relevansinya dengan pekerjaan. Ada yang karena interest pribadi. Ada juga yang mungkin dipilihkan oleh supervisor sebagai bagian dari penelitian besar si supervisor.

Konteks penelitian juga bermacam-macam. Ada yang meneliti tentang Indonesia secara keseluruhan atau sebagian wilayah Indonesia. Ada yang membandingkan Indonesia dengan negara lain. Ada juga yang meneliti di tingkat internasional. Yang jelas kesemuanya punya tujuan yang sama. Menjawab pertanyaan penelitian, baik itu untuk mengisi kesenjangan ilmu pengetahuan dalam bidang yang diteliti atau untuk mendapatkan fakta-fakta untuk formulasi kebijakan jika itu merupakan penelitian kebijakan.

Saya sendiri punya alasan nano-nano dengan lokasi penelitian di Indonesia yang relevan dengan pekerjaan sebagai salah satu perencana di bidang pendidikan di Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS). Terlepas dari kenyataan bahwa topik  penelitian saya sudah banyak digali di negara-negara lain, toh penelitian ini belum banyak dilakukan di Indonesia dan karenanya banyak tantangannya.

Apa sih yang ingin saya teliti?

Banyak yang ingin saya teliti. Salah satu bab thesis saya adalah adalah meneliti mengapa masih banyak anak Indonesia kyang tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi setelah mereka menamatkan bangku sekolah dasar atau sekolah menengah pertama. Saya ingin anak yang ada di foto berikut yang saya ambil di Nias, Sumatera Utara, tahun 2006, juga teman-temannya yang lain di seluruh Indonesia, bisa terus sekolah. Jangan sampai hanya karena mereka miskin, tinggal di daerah terpencil, atau karena alasan lain mereka tidak dapat menikmati hak mereka sebagai warna negara untuk mendapat pendidikan yang baik.

Beberapa tahun lalu, anak laki-laki yang ada di foto ini berdeklamasi tentang keinginannya menggapai cita-citanya untuk bersekolah lebih tinggi. Deklamasi dilakukan ketika di desanya nun jauh di pedalaman Nias, Sumatera Utara, dibangun SMP baru dengan dana dari pemerintah tetapi dikerjakan secara swakarya oleh masyarakat setempat.
(Sekedar informasi, foto ini menjadi pemenang ke-2 pilihan juri dalam Research Photo Competition 2012 yang diadakan oleh Australian National University)

Di bab lainnya saya juga meneliti mengapa prestasi akademik anak Indonesia sangat beragam. Apakah itu karena fasilitas pendidikan yang tidak memadai atau faktor lain seperti faktor keluarga atau lingkungan? Apakah karakteristik kabupaten/kota tempat si anak tinggal juga berpengaruh? Cukup sederhana sebenarnya, tapi karena karakteristik keluarga dan masyarakat di Indonesia sangat beragam dan terus berubah dari tahun ke tahun, menjawab pertanyaan yang sederhana itu menjadi tidak sederhana. Apalagi saya ingin melihat perubahan faktor-faktor itu dari sebelum pelaksanaan Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun yang dicanangkan tahun 1994 sampai kondisi saat ini.

Data yang saya gunakan berasal dari berbagai sumber, termasuk diantaranya adalah dari Badan Pusat Statistik (Survei Sosial-Ekonomi Nasional dari tahun 1993 sampai tahun 2010, Survei Tenaga Nasional, dan Sensus Potensi Desa), dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (nilai ujian nasional, database sekolah, dan database guru yang semuanya adalah data tahun 2010), dan dari Departemen Keuangan dan BAPPENAS untuk data yang terkait dengan pembiayaan pendidikan.

Lalu, apa temuan saya?

Setelah mendapat cukup ilmu untuk melakukan penelitian dari berbagai mata kuliah yang saya ikuti, yang sebagian besar tanpa kredit alias sekedar kuliah untuk dapat ilmu, saya mulai melakukan “penyelidikan” untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan saya itu. Sedikit demi sedikit lubang hitam itu mulai terkuak.

Temuan pertama membuktikan bahwa fasilitas pendidikan yang memang belum merata. Masih ada kecamatan yang tidak punya SMP/MTs, apalagi jenjang yang lebih tinggi. Pada tahun 2008 saja, dari 6.425 kecamatan yang ada di Indonesia, ada sekitar 17% kecamatan yang tidak memiliki SMA/MA/SMK baik negeri maupun swasta. Untuk yang sudah punya sekolah pun, banyak yang fasilitas sekolahnya tidak lengkap. Banyak sekolah yang tidak punya perpustakaan, padahal perpustakaan merupakan sumber ilmu disamping pembelajaran yang diterima anak di kelas. Banyak juga sekolah yang tidak punya laboratorium tempat melakukan praktek untuk meningkatkan pemahaman terhadap pelajaran yang diterima di kelas.

Temuan kedua membuat saya tercengang. Percaya tidak kalau anak laki-laki di Indonesia justru menjadi semakin tertinggal dibanding anak perempuan? Betul lho, hasil penelitian saya menunjukkan semakin banyak anak laki-laki yang putus sekolah dibandingkan perempuan. Prestasi akademik anak laki-laki juga lebih rendah dibanding anak perempuan, terutama untuk mata pelajaran bahasa. Hasil ini berbeda dengan pemahaman umum di Indonesia bahwa anak perempuan lebih banyak yang tidak sekolah karena harus membantu pekerjaan rumah tangga dan mereka selalu dikalahkan dari saudara laki-lakinya. Faktanya anak laki-laki yang lebih terbenani untuk membantu orang tua terutama untuk mencari nafkah. Hasil ini mendukung perlunya kebijakan afirmasi untuk anak laki-laki supaya mereka sama-sama mengenyam pendidikan sebaik teman-teman perempuan mereka

Ketiga, faktor keluarga seperti pendidikan dan pekerjaan orang tua merupakan salah satu faktor terpenting dalam penentuan lanjut/tidaknya sekolah anak dan prestasi akademiknya. Menariknya, peran pendidikan ibu terus menguat dari tahun ke tahun. Mungkin itu karena bargaining position ibu yang semakin kuat dalam proses pengambilan keputusan keluarga. Bisa diduga, faktor ekonomi keluarga juga luar biasa pentingnya dalam menentukan pendidikan anak. Kesempatan anak dari keluarga kaya untuk melanjutkan sekolah jauh lebih besar dari kesempatan anak dari keluarga miskin. Semakin tinggi pendidikan, efek faktor ekonomi keluarga jadi jauh lebih penting.

Disamping itu, struktur keluarga seperti jumlah anggota keluarga, jumlah saudara laki-laki atau perempuan, dan jumlah orang dewasa dalam rumah tangga juga merupakan faktor penting. Dengan demikian bisa donk kalau saya bilang keberhasilan pendidikan juga dipengaruhi oleh keberhasilan program keluarga berencana (KB)? Hayo.. BKKBN.. terus galakkan KB ya supaya masyarakat Indonesia membatasi jumlah anak sehingga semua anak bisa sekolah dan punya masa depan yang lebih baik.

Saya juga jadi tahu kalau faktor pendidikan masyarakat di tingkat kabupaten/kota lebih penting dalam menentukan pendidikan seorang anak daripada tingkat ekonomi mereka. Nah, temuan ini bisa menjadi argumen bahwa kebijakan pemerintah memang tidak bisa disamaratakan antar daerah. Untuk yang masyarakatnya kaya, mungkin yang lebih diperlukan adalah menyadarkan mereka kalau sekolah itu penting dan bukan semata-mata menyediakan dana yang besar.

Lalu, kedepannya apa?

Tulisan diatas hanya sepenggal kecil cerita tentang penelitian saya. Tapi cerita yang sepenggal itu sedikit banyak bisa menggambarkan adanya kebijakan yang harus diubah atau dibenahi. Dana pendidikan yang katanya tidak banyak itu perlu digunakan secara lebih efektif lagi. Sebagai warga negara, anak-anak Indonesia, di manapun, dengan latar belakang apapun, baik laki-laki maupun perempuan, kaya atau miskin, mereka punya hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Semoga saja, hasil penelitian saya bisa berkontribusi untuk memperbaiki keadaan yang ada. Sebesar apapun kontribusi itu. Secuilpun tak apa. Dan semoga saya bisa ikut menjadi bagian dari perbaikan itu. Amien…

Pesan: mohon tidak disadur tanpa persetujuan penulis 🙂