“Hey, buy a f*cking car”, teriak seorang remaja dari sebuah mobil yang melaju cukup lambat disebelah saya yang sedang ngos-ngosan mengenjot sepeda sekitar pukul 10 malam. Sepersekian detik otak saya bekerja dibantu rasa marah, letih, dan lapar. “Bugger off, you freak!!” saya balas teriak. Lalu mengacunglah jari tengah saya (believe me, it needs a good balancing act and a proper amount of rage to do that while cycling).

Berlebihan? In my defense, saya baru selesai ‘bekerja’ seharian di kampus, memeras otak yang tak seberapa ini, memelototi komputer, membaca jurnal-jurnal yang bahasanya terasa asing, mendulang ide dan menuangkannya ke sebentuk tulisan bernama ‘esai’. Di akhir pekan. Dan tenggat tugasnya dua hari lagi. Dan saya belum makan malam. Dan saya malas masak. Dan semua restoran tutup jam 10. Dan stok indomie saya habis. Arrrgh!!!!

Hari saya tak melulu begitu menyedihkan. Ada banyak hari menyenangkan selama saya kuliah (tapi itu untuk tulisan berikutnya). Sayangnya, seringkali, hari saya terlewati seperti kejadian di atas (minus annoying brats). Di hari seperti ini, saya sering bertanya ke diri sendiri, ‘”Ngapain sih kamu di sini, Clara? What am I doing here?” (sebenarnya lebih merupakan refleksi depresi saya 😛 )

Tak mudah menjawab pertanyaan itu ketika saya diberondong begitu banyak tugas dan masalah (mahasiswi juga punya social life). Tetapi, ada saat-saat di mana, jawaban atas pertanyaan ini membuat perbedaan dalam hari-hari saya; mengingatkan kembali kenapa di atas semuanya saya memilih belajar di luar negeri.

Jawaban yang datang tak selalu sederhana. Ada beragam alasan saya memilih melanjutkan belajar langsung setelah S1. Tapi satu alasan yang konstan adalah, ‘saya ingin belajar’ (saya jujur banget loh ini, bukan ngecap) atau dalam bahasanya salah satu motivator kondang (yang menurut saya nyebelin), ‘mengembangkan diri’. Tentu saya ingin menyelamatkan dunia atau bekerja dengan gaji puluhan juta sebulan. Tapi lebih dari itu, saya ingin belajar.

Setelah lulus S1, saya memutuskan untuk tidak bekerja. Ceritanya, saya mengalami disorientasi setelah tiga bulan menulis skripsi. Selama tiga bulan itu juga saya berkenalan dengan anak jalanan di satu sudut kota Jogja. Saya pikir, “Ngapain sih saya nulis tentang gerakan sosial bekas kasta terbuang di Jepang sementara di depan mata ada banyak masalah yang saya tak tahu solusinya”. Tanya saya berapa anggaran perumahan buat minoritas kasta Jepang, saya tahu angkanya. Tanya saya apa program untuk anak jalanan di kota saya, saya bengong. Berangkat dari itu, saya bertekad bahwa saya harus belajar lagi. Kali ini tentang anak-anak dan kebijakan publik.

Lantas, mengapa luar negeri? Selain alasan praktis bahwa di Indonesia, tidak ada program kebijakan anak-anak, dan alasan arogan bahwa di luar negeri pendidikan lebih bermutu, alasan utamanya, lagi-lagi saya ingin belajar. Kali ini belajar kehidupan. Perlu dicatat, saya tidak berpendapat bahwa kehidupan cuma ada di luar negeri. Indonesia atau Botswana, bekerja atau belajar, atau malah menikah (haha), saya tetap belajar kehidupan dalam ranah yang lain. Semata, ini preferensi pribadi. Saya ingin menantang diri hidup 2 tahun di konfigurasi sosial yang berbeda. Bereksplorasi, berkenalan dengan ‘the others’ dan memahaminya. Saya percaya, dengan begitu saya menemukan dan membentuk diri saya. Katanya,’ In trying to understand the Other, each experiences painful new understanding of Self’ (Meleisa 1997)

Begitulah. Pertanyaan, ‘What am I doing here?’ mengisi benak saya ketika menunggu bus malam terakhir sementara seisi kota menikmati malam. Dan saya tahu, ketika saya bisa kembali ke jawaban awal, ‘saya ingin belajar’, besok tak terasa begitu berat.