Selama hampir 2 semester masa studi saya di Australian National University, saya masih terus bertanya-tanya, kenapa saya mau-maunya meninggalkan kehidupan yang tergolong nyaman di Jakarta, dekat dengan semua hal yang saya kenal dan saya sayangi?kenapa Canberra? Kenapa International and Development Economics?

Well, saya adalah PNS di salah satu Kementerian di Jakarta dengan latar belakang pendidikan S1 Akuntansi. Berbekal tekad dan cita-cita yang saya punya sedari SMA saya memutuskan bergabung dengan kantor saya sekarang, yang pekerjaannya sama sekali tidak berhubungan dengan latar belakang pendidikan saya. Saya yakin, sedikit bekal ilmu ekonomi yang saya dapatkan semasa kuliah S1 bisa membantu karir saya nantinya. Dengan alasan itu pula saya memutuskan untuk mengambil jurusan di atas.

Saya datang ke Canbera dengan pikiran optimis, tanpa tahu bahwa studi yang akan saya tempuh ternyata berbeda jauh dari apa yang telah saya pelajari sebelumnya. Saya ingat kalimat pertama yang terlintas saat untuk pertama kalinya saya menghadiri bridging session atau lebih dikenal sebagai Introductory Academic Process (IAP) adalah “what on earth am I doing here? This is not what I am asking for?”. Dapat ditebak, saya sukses terbengong-bengong tidak mengerti apa yang disampaikan tutor saat itu. Ditambah dengan beban cuaca (saya datang saat musim dingin dan proses adaptasi, saya hampir depresi.

Tapi, saya beruntung. Saat itu saya masih tinggal serumah dengan 2 orang mahasiswa Indonesia yang juga baru datang dan seorang mahasiswa Negara tetangga, teman sekelas saya. Pulang ke rumah saat lelah sehabis menghadapi dunia asing yang saya tidak mengerti sama sekali, disambut oleh teman-teman yang pengertian dan sangat suportif sangat meringankan beban saya. Ditambah pula jumlah komunitas Indonesia di Canberra yang besar sehingga memudahkan saya untuk cepat menyebut Canberra sebagai ‘rumah’. Dan yang lebih menenangkan, teman-teman sekelas saya selalu dengan senang hati diajak berdiskusi dan bahkan sampai rutin mengadakan study group.

Kalimat-kalimat di atas sampai sekarang masih sering menghantui saya. Apalagi saat seperti sekarang dimana tugas dan ujian menjelang, dan saya ‘stuck’, tidak mengerti sama sekali isi catatan yang saya buat sendiri. Namun, saya yakin saya tidak sendirian dalam hal ini, banyak siswa-siswa lain yang mungkin merasakan hal yang sama juga.

Kalau sudah panik begini, biasanya saya mengambil break sebentar, menelepon atau sekedar mengirim email/bbm/sms dengan keluarga dan teman-teman di Indonesia atau teman-teman sesama mahasiswa di Australia, minum segelas teh hangat, mengintip laman-laman social media atau melamun sambil menikmati pemandangan di luar jendela. Menulis entry untuk blog Neng Koala ini ternyata juga menenangkan, mengejutkan karena biasanya saya tidak suka dan menghindari menulis.

suasana study group

Alhamdulillah, saya berhasil lulus semester pertama dengan.., yah pokoknya lulus dengan nilai sekedarnya. Senior-senior saya tidak bohong saat bilang bahwa kerja keras dimulai sejak hari pertama kuliah. Sistem kebut semalam sudah tidak dapat dilakukan sekarang, semua harus dicicil sejak awal semester. Dengan begitu, saya dituntut belajar hal lain di luar studi saya, manajemen waktu dan disiplin diri setidaknya. Namun buat saya, sesi-sesi diskusi dengan tutor, dosen dan teman-teman lewat study group yang terasa sangat membantu. Karena selain bertukar ilmu, study group juga seperti burden sharing sekaligus ajang sosialisasi.

Mudah-mudahan seiring berjalannya waktu, kalimat itu perlahan-lahan akan segera hilang, atau paling tidak panik yang biasanya datang menyertai akan semakin mudah ditenangkan. 🙂

-Sita